Ditulis pada: Saturday, February 12, 2011

SEKAR PADANG RUMPUT

Apakah kamu suka memberi kekasihmu bunga mawar? Ummm sangat klasik sekali. Aku kira kamu harus memilih bunga yang berbeda lain kali. Cangkok wijaya kusuma. Mekar di malam hari, semerbak harumnya. Dia seperti seorang kekasih yang menerangi gelapmu. Atau anggrek merpati. Sederhana, putih, dan bebas. Melambangkan cinta kalian yang sunyi namun menyenangkan.

Ibuku adalah petani bunga dan ayahku peternak domba dan biri-biri. Kami juga punya beberapa sapi dan kuda, kebun sayuran, anggur, dan apel, juga padang rumput yang membentang. Di tengah padang rumput itu berdiri kokoh pohon yang aku tak tahu namanya. Besar, rindang, dan menggugurkan daunnya saat kemarau. Sedangkan aku sendiri adalah gadis dua belas tahun yang lugu. Hihi. Tak jauh dari rumah ada sebuah sekolah, SMP Negeri 1 Krisan. Konon pendiri sekolah itu adalah seorang Belanda yang sangat menyukai bunga krisan. Salah satu siswanya adalah aku.

“Libur tlah tiba. Libur tlah tiba. Hore hore hore,” teman-teman menyanyikan lagu itu seusai sekolah. Mereka senang dan aku merasa jauh lebih senang. Saat liburan aku akan pergi ke kebun bunga. Kemudian berkuda ke padang rumput, melihat domba-domba, duduk di bawah pohon sambil menulis.

Pada liburan hari pertama aku mulai menulis sebuah cerita:

—–Dua minggu yang lalu datang seorang lelaki ke rumah. Dia adalah teman ayah. Usianya 50 tahun. Seorang penulis terkenal yang setiap bulan selalu mampir ke rumah kami yang kecil itu. Dia selalu bilang kepadaku, “Padang rumput dan semua yang kamu miliki saat ini adalah sumber inspirasimu. Peliharalah”. Untuk kali ini sambil menyodorkan laptop bekas miliknya. “Ini dulu milikku dan sekarang telah menjadi milikmu gadis kecil. Ada banyak catatan sederhana di dalamnya. Aku juga memberimu satu video spesial. Entah mengapa tiap melihat dan mendengar musiknya aku jadi teringat padamu dan padang rumput. Depapepe dengan apiknya memainkan gitar. Judulnya Canon”.

Benar video itu memang sangat menyenangkan. Pertama mereka berada di panggung musik yang megah. Setelah itu mereka berada di padang rumput yang hijau, dikelilingi bukit, dan dihiasi birunya langit. Benar-benar ekspresi yang bebas. Mereka tidur di sana dan seekor kupu-kupu datang menghampiri. Senangnya.

depapepe

Seperti tujuh tahun yang lalu saat anak Pak Luis masih sering terlihat duduk di bawah pohon ini sambil memainkan gitar. Aku paling suka saat dia membawakan soundtrack Doraemon. Petikannya merdu sekali. Sambil mendengarkannya, aku berlari-lari mengejar kupu-kupu. Sesekali aku menghampirinya. Dia hanya tersenyum. Begitu juga denganku. Kita memang belum pernah terlibat dalam sebuah percakapan bahkan sapaan. Namun bagiku senyum itu sudah cukup. Sayang sejak enam tahun yang lalu dia pergi ke kota. Dan aku tak pernah melihatnya lagi.

Hari berikutnya aku melakukan kegiatan yang sama. Ke kebun bunga, berkuda, dan menulis. Sampai tiba hari terakhir liburan sekolah. Kali ini aku menulis tentang sepasang kekasih:

—–Usiaku masih kanak tapi aku tahu bagaimana kisah cinta orang dewasa dari novel-novel barat klasik yang ditinggalkan teman ayah yang penulis itu. Seperti kisah cinta Romeo dan Juliet yang sampai sekarang aku tidak mengerti apa maksudnya. Hehe.

Tiba-tiba gerak tanganku terhenti. Sayup-sayup terdengar petikan gitar lagu Doraemon. Kali ini diikuti suara, “La la la aku sayang sekali….. Doraemon”. Aku menghampirinya dan melihat dia memainkan gitarnya.

“Kini usiaku 30 tahun. Lima tahun yang lalu aku menikah dengan gadis kota namanya Sofi. Kami dikaruniai seorang putri. Aku memberinya nama Bulan karena aku sangat menyukai anggrek bulan di depan rumahmu. Kini Bulan sudah hampir empat tahun dan mulai pintar menyanyi. Tiap kali dia menyanyi lagu Anak Gembala, aku jadi teringat kamu dan padang rumput ini. Hah, sekarang aku telah kembali gadis kecil. Apa yang kamu tunggu cepat tangkap kupu-kupu itu.”

Aku hanya terdiam. Lalu dengan segera kutunjukkan laptopku. “Maukah kamu memainkan Canon yang dibawakan oleh Depapepe dalam video ini kawan?” Haha dia tersenyum dan dengan mahir memainkannya.

Ini adalah kali pertama aku berbicara dengan anak laki-laki Pak Luis yang kuceritakan pada liburan hari pertama. Terima kasih kamu telah memanggilku Sekar.

-The End-

Image

Advertisements