GALAU: DIALEKTIKA BARAT-TIMUR


“Aku bukan penganut Islam liberal. Aku juga bukan bagian dari mereka yang menghendaki sekularisasi Indonesia. Apalagi seorang fundamentalis, tentu saja bukan. Aku hanya seorang muslim biasa yang tidak sepakat Islam dipolitisasi.”

–          Orhan Pamuk adalah novelis dari Turki. Aku sangat mengagumi karyanya. Ada cerita di dalam cerita dan ada cerita lagi di dalamnya. Juga gambaran melankolis tentang kemurungan manusia dan kota. Benar-benar bagaikan sebuah kotak Pandora. Lalu di sana kamu akan menemukan kisah cinta yang rumit. Juga kisah detektif yang dikemas dengan apik. Kata Orhan Pamuk, istilah Arab, hüzün yang artinya kemurungan, kekelaman, kekalahan, kegelapan masa, keperihan sebenarnya memiliki makna estetika yang amat luar biasa indahnya. Kekalahan itu adalah suatu kenikmatan dari Tuhan yang luar biasa indah. Termasuk dalam urusan cinta. Kamu harus membaca novelnya.

Laki-laki bernama Nafis itu dengan semangat menceritakan penulis kesukaannya. Sementara di ujung sana sayup-sayup terdengar beberapa anak muda bernyanyi sambil memainkan gitar.

–          Apa yang bisa kamu ceritakan dari karyanya? Maksudku pemikiran besarnya. Tanya seorang gadis kepada Nafis.

–          Runtuhnya peradaban Islam di barat (Eropa) dan pertentangan sekularisasi Kemal. Jawabnya.

Sejenak mereka terdiam. Norah memalingkan muka dan menatap wajah Nafis dari samping. Lalu Nafis mulai berbicara lagi. Dan Norah kembali menatap lautan dari tempat mereka duduk pada sore yang damai itu.

–          Peristiwa itu dimulai sejak diangkatnya Kemal Ataturk menjadi presiden Turki. Dia adalah orang pertama yang memodernisasi Turki hingga akhirnya Turki berubah menjadi negara sekuler. Hampir berabad-abad pemerintahan dipimpin oleh Khilafah Usmani, Kesultanan Islam yang besar pada masanya. Berabad-abad pula Turki hidup dalam nuansa budaya timur (Islam). Kini Turki telah berevolusi. Westernisasi tak terelakan lagi. Namun semua tak berjalan mulus karena sekularisasi Kemal ini mendapat pertentangan dari orang-orang yang ingin mempertahankan ketimuran Turki. Perpecahan pun terjadi. Mereka yang sekuler dan mereka yang ketimuran.

Sejenak Nafis menghela nafas kemudian bertanya:

–          Lalu siapa penulis yang kamu puja? Hampir lima tahun kita saling mengenal tapi kamu tak pernah menyinggungnya.

–          Joyce. James Joyce. Jawab Norah.

Senyum kecil muncul di wajahnya.

–          Aku paling suka saat dia bercerita tentang kereta.

“Tidak tahu apa itu politik dan di mana dunia ini berakhir sangatlah menyakitkan baginya. Ia merasa kecil dan lemah. Kapan ia bisa menjadi seperti anak-anak di kelas retorika dan puisi? Suara dan sepatu bot mereka besar dan mereka belajar geometri. Itu masih sangat jauh. Pertama, harus melewati masa liburan dan kemudian masa sekolah dan kemudian masa liburan lagi dan kemudian masa sekolah lagi dan kemudian liburan lagi. Rasanya seperti kereta api yang keluar masuk terowongan dan itu seperti suara riuh anak-anak yang sedang makan di ruang makan saat kamu membuka dan menutup cuping telingamu. Masa sekolah, masa liburan; terowongan, keluar; riuh, berhenti. Betapa jauhnya!”

–          Aku juga sangat gembira saat Joyce menceritakan liburan sekolahnya dan hujan.

“Saatnya pulang untuk berlibur! Pasti sangat menyenangkan: kata teman-teman. Naik kereta di suatu pagi awal musim dingin di luar pintu kastil. Roda kereta menggelinding di atas tanah berkerikil. Bersoraklah untuk rektor!

Hore! Hore! Hore!

Kereta-kereta melaju melintasi kapel dan semua topi diangkat. Mereka melaju dengan gembira di sepanjang jalan desa. Pengemudi menunjuk dengan tongkat pelecutnya ke arah Bodens-town. Anak-anak bersorak. Mereka melintasi rumah pertanian Jolly Farmer. Sorak demi sorak tanpa henti. Mereka melintasi Clane, sambil bersorak-sorai. Para wanita petani berdiri di pintu rumah mereka yang setengah terbuka, para lelaki berdiri di sana-sini. Ada aroma menyenangkan di seluruh udara musim dingin: aroma Clane: hujan dan udara musim dingin dan tanah yang mengepul dan kayu.”

Mereka berdua masih larut dalam diskusi kesusastraan itu. Sambil memandang permukaan laut yang berkaca-kaca. Seperti ada minyak goreng menari-nari di sana, sedikit keemasan. Matahari masih belum terbenam dan dia berwarna kuning kemerah-merahan. Dari sebuah bangku taman panjang di dekat jalan tepi pantai yang tak jauh dari rumah mereka. Dan Norah pun mulai menanggapi pemikiran penulis dari Turki itu.

–          Aku sangat tertarik dengan pemikiran Orhan Pamuk. Dia membicarakan Turki tapi secara tidak langsung dia juga membicarakan negeri kita. Pram pernah menuliskan sebuah kisah tentang kejayaan Nusantara dalam bukunya yang berjudul Arus Balik. Waktu itu Nusantara sangat hebat armadanya di bawah kekuasaan Majapahit. Arus selalu bergerak dari selatan ke utara. Kemudian jaman berubah. Majapahit runtuh dan Nusantara mulai digantikan kekuasaan Malaka. Yang awalnya kental dengan dominasi kerajaan Hindu-Budha beralih menjadi dominasi kerajaan Islam. Namun sayang sekali, kekuatan laut Nusantara tak sejaya dulu lagi. Hingga akhirnya bangsa-bangsa Eropa pun mampu menaklukkannya. Dituliskan olehnya:

“Sekarang makin lama makin sedikit kapal-kapal Jawa berlayar ke utara, ke Atas Angin, ke Campa ataupun ke Tiongkok. Arus kapal dari selatan semakin tipis. Sebaliknya arus dari utara semakin deras, membawa barang-barang baru, pikiran-pikiran baru, agama baru.”

–          Ya, aku setuju. Kata Nafis. Memang seperti itu. Sebenarnya globalisasi itu sudah ada sejak dulu sejak pelayaran asing masuk ke Nusantara bukan abad dua puluh. Dan sejak Islam masuk lah masyarakat di Nusantara menjadi modern.

Kemudian Norah kembali melontarkan pernyataannya.

–          Dulu manusia di kepulauan Nusantara belum mengenal agama. Hindu dan Budha pun merupakan agama impor. Kemudian dominasi mereka runtuh bersamaan dengan runtuhnya Majapahit dan digantikan dominasi Islam. Dalam sejarah jelas Islam tercatat pernah mengalahkan dominasi lain. Lantas mengapa akhir-akhir ini banyak ormas yang menolak westernisasi di Indonesia jika dulu orang-orang Islam pun juga pernah melakukan islamisasi Nusantara?

Kemudian Nafis mulai memberikan tanggapannya.

–          Islam itu kan seperti saudaranya Kristen, sama-sama agama misioner. Makanya ribut melulu dengan kepercayaan lokal. Yang berhasil hanya lewat budaya dan gerakan tarekat. Problem agenda westernisasi tidak sesederhana itu. Barat memang menjadikan dunia ke-3 sebagai sapi perah dan konsumen industrialnya. Fundamentalis muncul ya gara-gara arogansi budaya barat.

Norah pun kembali berbicara.

–          Bukankah segalanya dinamis dan penuh dengan perubahan? Bukankah sejarah telah memberi gambaran jelas bahwa peradaban yang mampu merebut hati manusia di daerah itu lah yang akan berjaya. Semua serba tidak tetap. Inkonsisten. Mengapa masih harus ada front yang mengaku sebagai pembela Islam yang takut dengan ummm liberalisme misalnya?

–          Problem mungkin ada dalam dinamika umat Islam nusantara sendiri yang begitu kompleks. Jawab Nafis. Yang paling memuakkan  sebenarnya adalah peran elit-elit yang memainkan isu agama untuk kepentingn  politiknya. Soal hegemoni barat dan globalisasi memang tak terbantahkan. Cuma kan barat mulai hancur juga karena krisis ekonomi yg serius.

–          Aku heran dengan beberapa ormas agama belakangan ini. Diskusi buku saja dilarang. Mengapa mereka begitu berprasangka buruk dan tidak bersikap adil sejak dalam pikiran, seperti kata Pram? Hehe. Dan yang paling mengherankan adalah ormas-ormas tadi tidak memikirkan sisi lain yang justru lebih riskan bagi umat Islam sendiri misalnya hasrat dalam kungkungan kapitalisme. Aku kira umat Islam itu tidak melulu yang berpikiran seperti mereka. Ada lapisan masyarakat Islam lain yang memiliki pola pikir yang lain pula. Dan bila dihitung, mungkin yang sepaham dengan ormas tadi hanya sedikit. Sisanya masa bodoh saja. Yang penting hidup dalam posisi aman dan nyaman. Begitu kok mengatasnamakan Islam. Oh ya satu lagi, pelarangan diskusi buku maupun pembakaran buku yang tentu saja sering mereka agendakan, menurutku tidak akan mengatasi problem umat Islam kekinian di Indonesia dan bahkan tak menyentuh sedikit pun. Tegas Norah.

–          Itulah yang artinya problem mentalite. Yang menjadi modern itu tidak dari kesadaran sebagai manusia nalar dan cinta pengetahuan. Tetapi sebagai konsumeris belaka. Itu uniknya kenorakan umat Islam kekinian. Jawab Nafis.

–          Iya, aku paham. Sambung Norah.

Langit semakin menguning. Burung-burung bergegas menuju ke timur dan tenggara, kembali ke sarang mereka yang tersembunyi.

–          Norah, apa kamu pernah berpikir takut merindukan seseorang?

–          Sering.

Suasana hening sejenak.

–          Besok aku harus terbang ke Belanda dan mungkin baru akan kembali dua sampai tiga tahun lagi. Dua bulan yang lalu pengumuman itu sampai di rumah. Aku mendapat beasiswa kuliah S3 di sana. Mungkin kelak aku akan merindukan orang-orang di desa pesisir pantai selatan ini. Maaf Norah, aku baru memberitahumu sekarang.

–          Mendadak sekali. Aku tidak akan mengantarmu besok.

Nafis tahu Norah ngambek. Dia memilih untuk diam dan mengiyakan pilihannya. Dia sudah sangat memahami Norah. Tiba-tiba terdengar suara adzan dari masjid tepi pantai.

–          Kamu segeralah pulang. Ibumu pasti mencarimu. Aku akan ke masjid dulu untuk sholat Maghrib berjamaah.

Mereka kemudian berpisah tanpa sepatah kata pun.

________________
Sehari berlalu sejak keberangkatan Nafis. Kini hari-hari Norah harus diisi tanpa kehadiran Nafis. Sore itu Norah tidak duduk di pantai seperti biasa. Dia lebih memilih membuka situs jejaring sosial dan email. Ada beberapa pesan yang masuk salah satunya dari Nafis. Terkirim siang tadi. Ada beberapa berkas yang tertinggal di rumah. Dan Nafis meminta Norah untuk mengirimkannya. Seketika Norah ingat flash disk Nafis yang masih dia bawa. Dibukanya satu persatu folder dan tulisan di dalamnya. Ada banyak artikel dan essai menarik yang ditulis laki-laki itu. Hingga akhirnya Norah menemukan salah satu cerpen Nafis. Judulnya Kotak Pandora. Ada bagian yang membuat gadis ini shock.

……………… Gadis tengil yang kucintai itu bernama Norah. Sudah lama aku memendam perasaan ini dan aku tidak berani mengungkapkannya. Dialah barat dan timur yang kadang membuatku bimbang. Dia lah yang telah menggoyahkan pendirianku……………………

Norah segera mematikan laptopnya dan menuju ke pantai. Duduk di bangku taman panjang di dekat jalan tepi pantai yang tak jauh dari rumahnya. Tempat favorit mereka berdua. Tempat mereka mencurahkan perasaan dan pemikiran tanpa mempedulikan cinta, sayang, maupun suka. Mereka sahabat baik dan itu sudah cukup mengisi hari-hari mereka.

Gadis itu melamun memandang ombak. Merasakan angin yang damai di seluruh kulitnya. Angin yang selalu dia puja bersama Nafis.

Batinnya mulai menggumam.

–          Selain tukang ejek kamu juga sangat cerewet. Kamu selalu mengomentari pola makanku. Kamu juga tidak memberitahukan keberangkatanmu jauh-jauh hari. Kamu memang sangat menyebalkan. Mungkin ini yang selalu aku takutkan; merindukan seseorang di saat yang tidak tepat. Ada baiknya kamu segera membuang jauh-jauh kebimbanganmu itu. Aku bukan baratmu juga bukan timurmu, karena sekarang aku telah menyerahkan diri untuk menjadi hati dan pikiranmu. Aku adalah duniamu. Apakah kamu masih ingat waktu itu aku menulis tentang seseorang yang berlayar ke barat dan dia kembali dari arah timur? Bumi ini bulat sayangku. Berterimakasihlah kepada Copernicus dan Galileo.

Anak-anak yang biasanya bernyanyi di tepi pantai itu masih setia di sana. Mereka menyanyikan lagunya Mr. Big yang berjudul I Love The Way You Love Me. Norah menangis dan kemudian tertawa.

Norah ingat lagu kesukaannya Nafis. I’m Yours dari Jason Mraz. Setelah ini dia tidak akan mengatakan apa-apa terkait cerpen yang dia baca. Dia akan menyimpan perasaannya dalam-dalam seperti yang dilakukan Nafis. Dia tidak akan berharap bisa bersama ataupun memiliki Nafis. Baginya persahabatan mereka jauh lebih penting dari apapun di dunia ini.

“Bagaimana aku tahu kalau kamu menyukaiku. Kamu tidak pernah memberitahuku.”

_The End _

Image

Advertisements