MENYERAH BUKANLAH DOSA

“Cinta itu konyol dan gila.”

Begitu kata Umar. Cinta adalah kegilaan yang diciptakan manusia dan manusia menikmati kegilaan itu. Di lain sisi cinta adalah momok yang sering menjerumuskan manusia ke dalam kenestapaan dan kegelisahan. Kemudian melahirkan manusia-manusia melankolis yang pandai menciptakan elegi-elegi sunyi.

Batari mencoba mengingat kembali perbincangannya bersama Umar malam itu. Sembari menyulut rokok, di sebuah kedai kopi di daerah Jogja, Umar berkata:

–          Aku sudah lama tak menyentuh karya-karya Milan Kundera. Bisa dikatakan banyak hal yang aku lupa. Tapi ada sedikit yang kutangkap dari novelnya yang berjudul Identity. Manusia itu yang mudah dibikin repot, yang rasional dibikin irrasional, yang jelas dibikin kabut, demi permainan, sampai-sampai, akhirnya manusia yang bikin permainan cinta itu, justru bingung sendiri dalam labirinnya. Tapi kata Kundera, di situlah makna cinta, tak selalu rasional!

Agaknya Batari merasa belum begitu memahami Kundera. Sejauh ini dia baru membaca Laughable Loves dan itu pun belum tuntas. Dia lalu berkata:

–          Aku belum begitu dekat dengan karyanya. Namun setidaknya aku cukup bisa menangkap apa yang kamu utarakan.

Malam semakin larut. Di luar hujan juga semakin deras. Ingatannya akan perbincangan di kedai kopi itu semakin dalam. Dia tak ingin terlelap. Masih ada yang mengganjal di dalam pikirannya. Kemudian dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat.

–          Besok pagi aku berangkat ke stasiun. Kemungkinan tiba di kampusmu sore. Usai kuliah, tunggu aku di taman yang pernah kamu ceritakan.

–          Baiklah. Jaga diri di jalan. Jawab Umar.

Esok harinya Batari mengendarai sepeda motor menuju stasiun. Jarak dari rumahnya ke stasiun cukup jauh, 40 km, kurang lebih memakan waktu satu jam. Pukul setengah enam pagi, jalanan masih sepi dan berkabut. Sisa-sisa musim kemarau masih terlihat jelas. Seperti pohon-pohon jati yang meranggas dan hanya menyisakan ranting. Mereka menggugurkan daunnya, mempertahankan diri dari penguapan yang tinggi saat matahari terik sepanjang hari. Rumah-rumah yang seharusnya tersembunyi di balik pepohonan saat musim semi juga masih terlihat jelas dari jalan. Hujan memang baru seminggu membasahi daerah ini. Baru tampak beberapa kuncup muda di antara rerumputan yang menguning.

Batari adalah perempuan pengagum hujan. Kekagumannya itu sama seperti kekagumannya pada syair-syair Rumi tentang cinta dan musim semi:

“Ketika “Cinta” pembawa air berteriak dengan suara Guntur, gurun pasir akan segera dipenuhi dengan tumbuh-tumbuhan hijau.” (D 1308)

Bagi Rumi, cinta sang kekasih (Tuhan) itu ibarat air, yang menumbuhkan benih-benih kehidupan seusai musim dingin yang beku. Ketika Batari membaca pengalaman spiritual Maulana, dia berpikir bahwa inilah salah satu “kegilaan” cinta. Keimanan yang mengakar dan menancap jauh di dasar hati, yang telah membawa juru sufi kepada kekasihnya, kepada ketiadaan yang mengada dalam setiap putaran dan doa. Begitu rumitnya kisah cinta Maulana dalam pemahaman Batari. Hingga akhirnya dia menemukan kesederhanaan cinta Maulana dalam sebuah kisah bersama Syamsuddin. Saat Syamsuddin mampu menunjukkan esensi ilahiah kepada Maulana, saat itulah Maulana menyebutnya sebagai cinta. Tapi Batari sadar, memahami sufisme tak segampang itu. Dia memilih mengagumi syair-syair Rumi tanpa harus melibatkan dirinya ke dalam pola keimanan tersebut. Rumi yang hidup dalam hatinya adalah syair-syairnya yang menyejukkan. Hanya sebatas itu saja. Sama seperti ketika dia membaca Matsuo Basho, William Butler Yeats dan Willian Wordsworth.

“Semua itu adalah bunga-bunga mawar, walau di luarnya mungkin tampak seperti duri-duri; Ia adalah cahaya yang dari semak menyala, walau terlihat laksana api!” (D 859)

Matahari semakin meninggi. Hampir separuh jalan dia tempuh. Setelah melalui Wanagama, dia akan menjumpai sungai Oya. Kemudian jalan berliku, bukit-bukit dan pemandangan kota Jogja dari ketinggian. Saat itu didapatinya deretan pohon bunga kleresede di jalan yang menikung tajam. Nama latin pohon tersebut adalah Gliricidia sepium. Dikenal sebagai tumbuhan perdu dan sering dimanfaatkan untuk pagar hidup. Bunganya indah, mekar saat daun-daunnya berguguran dan berwarna merah jambu seperti bunga sakura. Pengalaman ini seketika mengingatkan Batari pada Jepang. Tahun ajaran baru di negeri itu diawali saat bunga sakura bermekaran.

Gliricidia sepium

Gliricidia sepium

Memorinya kemudian kembali pada masa-masa awal menjadi mahasiswa baru. Tepatnya tahun 2007, di sebuah universitas negeri di Jogja. Ternyata sudah lebih dari lima tahun terhitung sejak masa orientasi (ospek). Momen yang paling membekas baginya dari serangkaian ospek adalah pentas seni. Waktu itu ada kelompok yang menyanyikan lagu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki dengan cara yang cukup unik.

Indonesia tanah air inyong
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Tetap dipuja-puja bangsa

Dan begitu seterusnya sampai lagu selesai. Anak-anak itu mengganti kata beta dengan inyong yang keduanya bermakna sama yaitu saya atau -ku. Mereka benar-benar orang ngapak yang kreatif. Mereka bangga dengan dialek Banyumasannya dan menjadikannya sebagai identitas kedaerahan. Namun Batari sendiri enggan berprasangka macam-macam kepada Ismail Marzuki terkait pemilihan kata beta ketimbang saya atau -ku, pun dengan anak-anak berdialek Banyumasan itu. Menurutnya itu hanya masalah penyesuaian bunyi dan euphoria semata, tidak ada unsur politis di dalamnya. Suatu ketika Batari menceritakan hal tersebut kepada Umar.

– Peristiwa ini memberi kejelasan kepada kita betapa beragamnya bahasa di Nusantara. Ada Jawa, Madura, Bugis, Bali, Banjar, Papua, dan sebagainya. Kemudian Bahasa Indonesia meyatukan keberagaman itu dalam satu pengucapan yang sama sehingga orang-orang bisa berkomunikasi dengan mudah.

Umar lalu berkata:

– Tapi saat ini, sadar atau tidak, bahasa yang seharusnya menjadi bahasa Nusantara yaitu Bahasa Indonesia yang berasal dari rumpun bahasa Melayu telah mengalami Jawanisasi. Coba kamu baca bukunya Ben Anderson “Language and Power”.

– Aku seperti pernah membaca kasus semacam ini. Jawab Batari sambil mengingat-ingat kembali. Oh ya, ditulis oleh Daniel Dhakidae tapi aku lupa judul bukunya. Dia sedikit mengutip apa yang disampaikan Ben Anderson. Tentang Bahasa Indonesia yang menang tapi kalah dan bahasa Jawa yang kalah tapi menang. Ini berkaitan dengan kepentingan politis katanya. Jadi istilahnya itu bahasa Jawa telah meng-krama-nisasikan dan me-ngoko-kan bahasa Indonesia secara tidak sadar. Padahal kan sejatinya bahasa Melayu itu hanya mengenal Melayu Tinggi (atau bahasa yang ditulis orang Melayu yang juga disebut sebagai Melayu Pustaka) dan Melayu rendah atau Melayu pasar.

– Iya benar. Bahasa Melayu tidak mengandung konsep seperti bahasa Jawa. Bahwa harus ada pembedaan untuk atasan, orang yang setara kedudukannya dan bawahan. Bahasa Indonesia yang kebanyakan dipakai orang Indonesia adalah Melayu Pasar atau Melayu Tangsi atau disebut juga Melayu Pesisir yang tidak terlalu mengacu pada kaidah bahasa. Kamu pernah membaca sejarah bahasa Melayu? Tanya Umar.

– Pernah. Bahasa Melayu merupakan rumpun bahasa Austronesia. Berdasarkan beberapa literatur, misalnya menurut Egon Freiherr von Eickstedt yang dikutip oleh S. Takdir Alisjahbana, waktu itu perubahan iklim di dataran Asia Tengah mengakibatkan perpindahan kera-kera (yang nantinya mengalami evolusi menjadi manusia) ke utara dan selatan. Bahasa Austronesia adalah bahasa yang dituturkan oleh kelompok yang lari ke selatan, ke daratan dan pulau-pulau di Asia. Mereka sering disebut sebagai bangsa yang kalah karena sering gagal menghalau musuh. Namun ada juga yang menyebutnya sebagai bangsa yang memiliki sifat avonturir atau suka berpetualang. Nama Austronesia sendiri pertama kali dipakai oleh Pater Schmidt. Dia membaginya ke dalam tiga kelompok; kelompok bahasa Nusantara, kelompok Melanesia dan kelompok Polinesia.

Membicarakan bahasa sangat mengasyikkan bagi Batari, juga mengingatkannya pada kisah Stephen Dedalus yang dia gemari. Baginya bisa mempelajari banyak bahasa adalah modal untuk bisa membaca dunia. Tapi memang benar bahwa ada banyak bangsa yang menunjukkan kecintaannya pada negeri atau daerahnya melalui bahasa dan dialek . Lagi-lagi Batari menganggap ini sebagai “kegilaan” cinta.

Hampir satu jam Batari mengendarai sepeda motornya. Sesampainya di stasiun dia langsung membeli tiket kereta ekonomi. Tak lama kemudian kereta datang. Dia memilih duduk di dekat jendela. Selang beberapa menit, duduk di sebelahnya seorang perempuan cantik. Tentu saja cantik menurutnya. Pernah suatu kali Batari dan Umar meributkan masalah cinta, seksualitas dan gender. Mengejutkan sekali saat Umar berkata:

– Menurut selera hedon-ku, perempuan yang cantik itu ya seperti Dian Sastro dan Alisya Soebandono.

Batari hanya tertawa kala itu. Dia bingung mengartikan apa itu selera hedon. Hahaha….

Pemandangan di luar jendela begitu menarik. Tapi sayang sekali, selama di perjalanan hatinya bimbang tak karuan. Kadang dia ingin kembali. Dia ragu dengan tujuannya saat ini; menanyakan kembali perasaan Umar beberapa bulan silam. Waktu itu Umar memintanya untuk menjadi kekasih tetapi ditolaknya dengan alasan bahwa cinta untuk waktu dekat hanya akan membawa kesedihan seperti masa lalunya. Kini ketakutan itu berubah. Dia benar-benar merasa harus selalu berada di dekat Umar.

Lalu dia teringat perjalanan Yui yang diceriatakan dalam sebuah lagu. Ketakutan akan kesedihan itu kembali membucah. Apa yang akan terjadi jika dia mengalami hal yang sama dengan Yui. Naik kereta ke tempat yang penuh dengan kenangan. Melintasi jalanan yang pernah dilalui, menghirup udara pantai dan mengucapkan kata-kata “Aku mengingatmu saat ini”. Betapa menyedihkannya jika dia masih begitu mencintai Umar sedangkan mereka telah terpisah, dan ternyata kenyataan membawanya pada tempat di mana mereka mengukir kenangan.

Ketakutan itu semakin menjadi-jadi ketika kisah dalam film Before Sunrise dan Before Sunset tiba-tiba melintas di kepalanya. Pertemuan antara Jesse dan Celine terjadi di dalam kereta yang sedang menuju ke Vienna. Percakapan singkat telah membuat mereka saling tertarik hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menjelajahi Vienna bersama-sama. Hubungan itu berjalan dengan mulus selama sehari. Namun sayang, hanya karena salah komunikasi mereka harus terpisah selama sembilan tahun tanpa saling bertukar kabar. Dan saat waktu mempertemukan mereka kembali, Jesse telah menikah dan mempunyai anak. Selama ini pekerjaan Jesse adalah menulis buku. Dia menjadikan Celine sebagai sumber inspirasinya. Bagi Batari kisah yang seperti ini sangatlah ironis. Cinta tak harus memiliki? Benar-benar gila katanya.

– Di kota berikut aku akan berhenti. Gumamnya dalam hati. Cinta itu boleh gila tapi harus realistis. Aku sama sekali tak yakin bisa selalu berada di dekatmu dan merebut hatimu kembali. Mulai sekarang aku tak akan pernah berharap lagi. Tak akan membayangakan duduk di taman yang pernah kamu ceritakan. Memandangi daun gugur sambil meributkan hal-hal yang tak jelas. Mulai sekarang lupakan Umar dan kembali ke jalan semula. Biarkan Umar mencari kekasihnya dan selanjutnya menjadi milik orang lain.

Batari kemudian turun di kota yang tak dikenalnya. Dia kini menjadi orang asing di kota terasing. Tempat di mana orang-orang terasing dengan kesedihannya. Walaupun itu hanya sementara saja.

“Oh, buatlah aku kehausan, jangan memberiku air! Buatlah aku pencintamu! Rampaslah tidurku!” (D 1751)

Catatan:
Cerpen ini saya tuLis muLai kemarin siang. Draft yang Lama saya buang. Hwa Kha Kha!!! Jadi begini ceritanya: Dua Minggu yang LaLu, SeLasa maLam tanggaL 9 Oktober 2012, seorang kawan mengajak saya taruhan membuat cerpen yang harus sudah seLesai daLam waktu 24 jam, jumLah kata minimaL seribu. DeadLine yang ditetapkan adaLah hari Rabu tanggaL 10 Oktober pukuL 24:00. Waktu menjeLang deadLine saya sudah mendapat seribu kata Lebih. Tapi sayang sekaLi kawan saya itu menyerah dengan aLasan bahwa ini bukan hanya masaLah taruhan tapi juga kepuasan. Katanya sih dia susah menemukan ending yang menggigit. Mendengar haL itu, saya pun jadi tidak bersemangat Lagi. Akhirnya kita sama-sama tidak mengunggah cerpen kita. Namun saya ingat, kaLau kita berjanji akan tetap mengunggahnya. Hahaha….ini cerpenku. AsaL jadi nggak papa ya? Betewe, mana punyamu??? :p

Advertisements