KITA DAN PERPUSTAKAAN

Begitu masuk, kita akan langsung mendapati meja tempat menscan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Biasanya ada seorang penjaga di sana. Setelah itu, kita memasuki ruang penitipan tas. Ada dua nomor kembar yang harus diambil; satu untuk digantung di tas, satu untuk dibawa. Nomor tersebut berfungsi untuk menandai barang bawaan yang dititipkan.

Kemudian setelah itu mari kita tentukan mau ke mana selanjutnya. Dulu biasanya saya langsung masuk ke ruang komputer untuk ngenet. Di ruang ini, pada tahun 2007, Tika (Kebo) dan Citra (Cecet) membantu saya membuat friendster dengan background foto band Bonjovi. Di ruang ini pula kita, sekelas, sering mengerjakan tugas kuliah. Menurut seorang petugas, sekarang ruang komputer sudah tidak aktif lagi. Hemmm, sudah hampir tiga tahun saya tidak menyambangi tempat ini, perpustakaan ini. Ternyata ada beberapa hal yang berubah.

Sudut berikutnya yang menarik untuk dikunjungi adalah bagian sirkulasi. Di sanalah Barno menemukan novelnya Pram yang berjudul Arus Balik. Dia menunjukkan novel tersebut saat kita makan di sebuah warung di daerah Samirono. Warung yang sering saya ceritakan karena pemiliknya (seorang bapak) setiap pagi menjelang siang selalu memutar kaset lawasnya. Lagu-lagu dari Deep Purple telah membuat tempat makan tersebut memiliki ciri khas. Klasik sekali. “Smoke on the Water”…. tiba-tiba saya ingin bernyanyi. Hehe.

Setelah puas di lantai satu, mari kita beranjak ke lantai dua. Ruangan-ruangan di lantai dua adalah favorit saya, Rara, Suga, Barno dan Heni. Oh tidak, sepertinya Heni lebih tertarik dengan lantai tiga karena di sana ada banyak tumpukan skripsi. Hahah. Begitu temaramnya ruang koleksi sekaligus ruang baca lantai dua tersebut. Ada banyak meja dan kursi untuk tempat kita membaca. Namun agaknya tak banyak yang betah duduk berlama-lama di ruang itu. Berbeda dengan saya. Saking terbuai oleh kesunyian dan temaramnya suasana, tak jarang saya tertidur di sela-sela membaca. Oh ya, buku-buku di lantai dua tidak dipinjamkan dan hanya bisa dibaca di tempat.

Lalu di sisi selatan lantai dua ini ada ruangan istimewa yang kita sebut sebagai ruang rahasia. Saat menuju ruang rahasia kita merasa seperti murid-murid yang mendiami sekolah tempat Harry Potter belajar sihir. Kita seolah sedang mencari tempat yang sangat misterius dan tersembunyi. Hahaha, ruang tersebut adalah ruang majalah. Bisa berjam-jam kita membaca di ruang majalah. Tentunya sambil ngobrol ngalor ngidul. Dan seperti biasanya saya tak akan melewatkan kesempatan untuk tertidur. Hwachacha. Berbeda dengan ruang yang lain, ruang majalah tutup lebih awal yaitu pukul tiga sore.

Itu tadi keistimewaan lantai dua. Lalu bagaimana dengan lantai tiga? Di sana ada dua tempat yang sering saya kunjungi yaitu mushola dan ruang penyimpanan skripsi. Di rak hanya ada skripsi dan Heni sangat antusias dengan ruangan itu. Hohoho. Jika kalian ingin melihat skripsi-skripsi lama milik mahasiswa yang sekarang menjadi dosen kalian, masuk saja ke sini. Hihihi. Nah yang paling kita suka adalah duduk di lantai di sela-sela rak sambil membuka-buka skripsi. Bisa sampai sore kita di ruang skripsi. Tentu saja karena tugas kuliah. Padahal waktu itu kita masih semester awal. Tapi tak apa sampai sore, mengingat dari balik jendela kita bisa melihat matahari yang berwarna oranye. Juga orang-orang yang bermain baseball di lapangan Fakultas Ilmu Keolahragaan.

Ada satu cerita unik, menarik, lucu, absurd tapi agak menjengkelkan terkait baseball ini. Hahah. Suatu hari Barno dan Endarti berjalan melewati perpus. Tiba-tiba Endarti ingin masuk sebentar ke perpus. Katanya ada sedikit urusan. “Oke, aku tunggu di luar tapi jangan lama-lama ya,” tegas Barno. Endar kemudian masuk. Katanya sebentar tapi hampir setengah jam tidak keluar-keluar. Lalu Barno memutuskan uktuk masuk. Dia berjalan ke setiap lorong dan sudut. Mencari di mana gerangan perempuan itu. Hingga akhirnya dia menemukan seonggok makhluk sedang berdiri di dekat jendela kaca. “Apa-apaan kamu, malah nonton baseball. Sudah hampir setengah jam ini,” keluh Barno. “Aaaaaaa sori, aku keasyikan di sini,” jawab Endarti dengan ekspresinya yang seperti itu (saya tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata di sini). Yang jelas tanpa dosa, ya tanpa dosa dia melakukannya pada Barno. Hwachacha. Saat peristiwa ini diceritakan kepada teman-teman, Barno hanya bisa bilang, “Wajahnya sok innocent, sok polos, aku jadi gregetan tapi nggak tahu harus berbuat apa.” (Ya kamu benar, saya tahu bagaimana harus membayangkan ekspresi Endarti waktu itu. Semua orang yang mengenalnya pasti bisa membayangkannya dengan baik. Hwa Kha Kha!)

Ini adalah kenangan-kenangan di awal-awal semester dulu. Saat kita masih menjadi mahasiswa muda. Saat masih suka berjalan kaki mengelilingi kampus, melewati taman Pancasila, duduk-duduk di taman Jepang, ngobrol di hall rektorat dan Pendopo Tedjokusumo, nyantai di hutan mlandhing, makan di kantin fakultas olahraga dan fakultas-fakultas lain, sholat di masjid Mujahidin dan masih banyak lagi, dan juga saat masih setia menjadi penghuni Perpustakaan Pusat Universitas. 🙂

-Apa kabar kalian semua?- 🙂

Advertisements