ISTANBUL, sebuah memoar, tentang kenangan sebuah kota.

Dari 551 halaman, bagian inilah yang menurut saya menarik untuk dikutip dan dijadikan catatan. Kemudian saya akan menghayatinya. Hingga akhirnya saya bertanya-tanya, mungkinkah saya sebagai orang timur akan berpikiran sama seperti Orhan Pamuk setelah saya membaca “History of Java” karya Stamford Raffles atau “Java in a Time of Revolution” karya Ben Anderson atau bahkan lukisan-lukisan Raden Saleh yang sudah banyak mendapat pengaruh barat. Ummm saya kira ini adalah dua hal yang tidak bisa disamakan begitu saja. Tapi… ummm… entahlah. Hehehe….

Image

Orhan Pamuk

“Apa yang sedang saya tulis ini, pada akhirnya, mungkin bukan sesuatu yang khusus Istanbul, dan mungkin, dengan pembaratan yang terjadi di seluruh dunia, itu tidak dapat dihindarkan.

Mungkin inilah mengapa saya kadang kala membaca catatan-catatan orang Barat tidak secara berjarak, sebagai mimpi-mimpi eksotis orang lain, tetapi tertarik mendekat, seolah-olah semua catatan tersebut adalah kenangan-kenangan saya sendiri. Saya senang sekali jika menemukan sebuah detail yang pernah saya lihat tetapi tidak pernah saya perhatikan, mungkin karena tidak ada orang lain yang saya kenal melakukannya. Saya sangat menyukai gambaran Knut Hamsun tentang jembatan Galata yang saya kenal sejak kecil — ditopang kapal-kapal tongkang, bergoyang ke kanan dan ke kiri di bawah beban lalu lintas — seperti saya menyukai gambaran Hans Christian Andersen tentang “Kegelapan” barisan pohon cemara di banyak pemakaman.

Melihat Istanbul melalui mata orang asing selalu memberi saya kesenangan, dalam porsi yang tidak sedikit karena gambaran tersebut membantu saya menangkis nasionalisme yang sempit dan tekanan untuk menyesuaikan diri. Gambaran mereka yang kadang-kadang akurat (dan karenanya agak memalukan) tentang harem, pakaian Usmani, dan ritual-ritual Usmani begitu jauh dari pengalaman saya sendiri sehingga saya merasa seolah-olah mereka bukan sedang menggambarkan kota saya, melainkan kota orang lain. Pembaratan telah memberi saya dan jutaan orang Istanbul lain kemewahan menikmati masa lalu kami sendiri sebagai sesuatu yang “eksotis”, kemewahan menikmati keindahannya.

Untuk melihat kota Istanbul dari banyak sudut pandang yang berbeda dan dengan demikian mempertahankan kekuatan hubungan saya dengannya, saya kadang-kadang menipu diri sendiri. Ada saat-saat ketika — setelah saya menghabiskan waktu lama tanpa pergi keluar atau bahkan tanpa mau repot-repot mencari Orhan lain yang menunggu dengan sangat sabar di rumah yang lain itu — saya khawatir keterikatan saya dengan tempat ini akan menumpulkan otak saya, khawatir kesendirian mungkin akan membunuh hasrat yang ada dalam pengamatan saya.

Kemudian, saya menghibur diri dengan mengingatkan diri sendiri bahwa ada sesuatu yang asing dalam cara saya memandang kota ini mengingat seluruh waktu yang saya habiskan untuk membaca catatan para kelana Barat. Kadang-kadang ketika saya membaca tentang hal-hal yang tidak pernah berubah — beberapa jalan utama dan gang-gang sempit, rumah-rumah kayu yang entah bagaimana masih berdiri, para pedagang jalanan, lahan-lahan kosong dan hüzün (kemurungan), semua yang tetap seperti dulu meskipun telah terjadi peningkatan jumlah penduduk sepuluh kali lipat — saya akan membujuk diri untuk memercayai bahwa semua catatan orang-orang luar dari Barat itu adalah kenangan-kenangan saya sendiri.

Jika para kelana Barat membumbui Istanbul dengan ilusi, fantasi tentang dunia Timur, pada akhirnya tidak ada hal yang membahayakan yang mereka lakukan pada kota Istanbul — kami tidak pernah menjadi jajahan orang Barat. Jadi, jika Gautier menyebutkan bahwa orang-orang Turki tidak menangis ketika bencana kebakaran melanda, bahwa — tidak seperti orang-orang Perancis, yang sering menangis — mereka menghadapi kesengsaraan dengan penuh martabat karena percaya pada takdir — saya mungkin benar-benar tidak menyetujui apa yang dia katakan, tetapi tetap saja saya tidak merasa diperlakukan dengan tidak semestinya. Kerugian itu menimpa pihak lain: semua pembaca Perancis yang menerima begitu saja pengamatan Gautier akan merasa bingung mengapa orang-orang Istanbul tidak dapat melepaskan hüzün mereka.

Keberatan yang saya rasakan ketika membaca tulisan para kelana Barat tentang Istanbul adalah, di atas segalanya, keberatan setelah meninjau ke masa lalu: banyak ciri khas lokal yang dicatat dan dibesar-besarkan oleh para pengamat ini, yang beberapa di antara mereka adalah penulis-penulis cemerlang, menghilang dari kota segera setelah dikomentari. Ini adalah simbiosis brutal: para pengamat Barat senang mencari hal-hal yang membuat kota Istanbul tampak eksotis, tidak berbau Barat, sementara orang-orang yang berkiblat ke Barat di kalangan kami menganggap semua hal itu sebagai penghambat yang harus dihapuskan dari wajah kota secepat mungkin.”

(ISTANBUL_ORHAN PAMUK_359-362)

Salah satu lukisan karya orang Barat yang dijadikan rujukan oleh Orhan Pamuk untuk menggambarkan Bosphorus pada masa Usmani:

Image

Palace of Hatice, mother of Sultan Mehmed IV by Antoine Ignace Melling, about 1800.

Advertisements